Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Erupsi Gunung Anak Krakatau Disertai Dentuman, BNPB Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada

Sabtu, 05 September 2026 | 10:00 WIB Last Updated 2026-09-06T17:52:55Z
Erupsi Gunung Anak Krakatau disertai dentuman di Lampung Selatan pada 5 September 2026
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan disertai suara dentuman pada 5 September 2026. (PVMBG/BNPB)

Lampung Selatan — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, masih berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026. Aktivitas erupsi diketahui mulai terjadi sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan disertai suara dentuman serta gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.


BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Warga dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan gunung api hanya untuk melihat atau merekam aktivitas erupsi.


Perkembangan aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pengamatan. Karena itu, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi dari lembaga resmi dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.


Perkembangan terkait Gunung Anak Krakatau juga dapat dipantau melalui NusaPedia.


Erupsi Masih Berlangsung


Berdasarkan laporan pengamatan pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas erupsi masih teramati di Gunung Anak Krakatau.


Secara visual, aktivitas pada malam hari diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava. Gunung api sempat terlihat dengan jelas sebelum kemudian tertutup kabut dengan tingkat kabut berada pada kisaran 0 hingga III.


Selama periode pengamatan tersebut, asap kawah tidak teramati. Sementara itu, kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik.


Dentuman dan Gemuruh Terdengar


Suara dentuman dan gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran bersamaan dengan aktivitas erupsi yang masih berlangsung.


Dari hasil pemantauan kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo mencapai 70 milimeter selama periode pengamatan.


Kondisi cuaca di sekitar gunung api saat itu dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah barat laut.


Status Gunung Anak Krakatau Level III atau Siaga


Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan rekomendasi PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian ESDM, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati kawasan gunung api.


Masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik.


Warga dan wisatawan yang berada di sekitar kawasan tersebut diharapkan mematuhi pembatasan serta arahan petugas untuk mengurangi risiko selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.


BNPB Imbau Masyarakat Tetap Tenang


Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat, terutama di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang terjadi setelah aktivitas erupsi Anak Krakatau.


BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak panik maupun mengambil kesimpulan sendiri hanya berdasarkan suara dentuman atau rekaman aktivitas erupsi yang beredar di media sosial.


Berdasarkan evaluasi PVMBG, tubuh gunung api yang kembali tumbuh setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan dinilai tidak berada pada skala yang berpotensi mengalami keruntuhan hingga memicu tsunami.


Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan secara intensif.


Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi


Informasi mengenai kondisi gunung api dapat berubah mengikuti hasil pengamatan terbaru. Masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai atau menyebarkan informasi yang tidak memiliki sumber jelas.


Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik dapat diperoleh melalui Badan Geologi Kementerian ESDM, PVMBG, BNPB, pemerintah daerah, serta kanal resmi kebencanaan lainnya.


Kesiapsiagaan Tetap Diperlukan


Selama aktivitas erupsi berlangsung, pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait perlu memastikan kesiapan penanganan apabila terjadi perubahan kondisi yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.


Kesiapan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta pengawasan terhadap kawasan terlarang menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keselamatan masyarakat.


Warga maupun wisatawan juga diharapkan tidak memasuki zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan berisiko dan selalu mengikuti arahan petugas di lapangan.


Pemantauan Aktivitas Terus Dilakukan


BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga melakukan evaluasi berdasarkan hasil pengamatan dan akan memberikan pembaruan apabila terdapat perubahan signifikan.


Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada. Mematuhi radius aman dan rekomendasi petugas merupakan langkah penting selama aktivitas erupsi masih berlangsung.


Informasi dan perkembangan nasional lainnya dapat dipantau melalui kanal Berita NusaPedia.


Kesimpulan


Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan disertai suara dentuman serta gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.


Aktivitas malam hari juga diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain. Saat ini status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga, dengan rekomendasi agar masyarakat tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.


BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti perkembangan informasi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, pemerintah daerah, serta sumber resmi lainnya.


Detail Berita

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan laporan resmi BNPB serta PVMBG mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026. Kondisi gunung api dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan terbaru. Masyarakat disarankan mengikuti arahan dan informasi resmi dari BNPB, PVMBG, Badan Geologi, serta pemerintah daerah setempat.
×
Berita Terbaru Update