Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Apa Itu Lava Fountain? Fenomena Saat Gunung Anak Krakatau Erupsi

Minggu, 06 September 2026 | 09:00 WIB Last Updated 2026-09-06T17:57:16Z

Erupsi Gunung Anak Krakatau disertai dentuman di Lampung Selatan pada 5 September 2026
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan disertai suara dentuman pada 5 September 2026. (PVMBG/BNPB)

Jakarta — Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan dentuman pada Sabtu, 5 September 2026. Aktivitas tersebut juga memperlihatkan semburan merah menyala yang oleh Badan Geologi diinterpretasikan menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava.


Erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas masih berlangsung pada periode pengamatan dini hari 5 September, sementara suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.


Badan Geologi melaporkan semburan berwarna merah menyala terlihat secara menerus, sedangkan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain dan menjadi salah satu bagian yang dipantau dalam perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.


Apa Itu Lava Fountain?


Lava fountain merupakan fenomena erupsi ketika material lava menyembur ke udara secara relatif terus-menerus menyerupai air mancur. Material yang keluar dari kawah dapat terlihat merah hingga merah-oranye karena masih memiliki temperatur yang sangat tinggi.


Fenomena ini berkaitan dengan pergerakan magma menuju permukaan. Magma mengandung gas terlarut yang berada di bawah tekanan tinggi. Ketika magma bergerak naik dan tekanan di sekitarnya berkurang, gas tersebut dapat mengembang dan mendorong material magma keluar melalui saluran erupsi.


Apabila pelepasan magma dan gas berlangsung secara berkelanjutan, material pijar dapat menyembur ke udara dan membentuk pola seperti air mancur. Tinggi serta intensitas semburan dapat dipengaruhi oleh kondisi magma, kandungan gas, tekanan, dan karakter saluran erupsi.


Mengapa Lava Terlihat Merah Menyala?


Warna merah menyala pada material lava berkaitan dengan suhu material vulkanik yang sangat tinggi. Material pijar memancarkan cahaya sehingga dapat terlihat jelas ketika keluar dari kawah.


Fenomena tersebut biasanya tampak lebih mencolok pada malam hari karena kondisi lingkungan yang gelap membuat cahaya dari material pijar terlihat lebih kontras dibandingkan pada siang hari.


Dalam laporan pengamatan, semburan merah menyala dari aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat secara menerus, sementara tinggi kolom erupsi tidak teramati pada periode tersebut.


Erupsi Disertai Suara Dentuman dan Gemuruh


Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026 tidak hanya ditandai oleh semburan material pijar. Suara gemuruh dan dentuman juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.


Badan Geologi menyebut suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.


Suara dan getaran tersebut menjadi perhatian karena muncul ketika aktivitas erupsi sedang berlangsung. Kondisi gunung api selanjutnya tetap dinilai berdasarkan data pemantauan dan analisis lembaga yang berwenang.


Bagaimana Lava Fountain Terbentuk?


Proses terbentuknya lava fountain bermula ketika magma bergerak dari dalam Bumi menuju permukaan. Magma membawa gas yang berada dalam kondisi terlarut akibat tekanan tinggi di bawah permukaan.


Ketika magma bergerak semakin dekat dengan permukaan, tekanan lingkungan menurun. Gas kemudian dapat mengembang dan membentuk gelembung di dalam magma.


Gas yang mengembang memberikan tekanan pada material magma dan mendorongnya keluar melalui saluran erupsi. Jika proses pelepasan gas dan magma berlangsung secara berkelanjutan, terbentuk semburan material pijar yang menyerupai air mancur.


Apakah Lava Fountain Berbahaya?


Lava fountain tetap memiliki potensi bahaya meskipun bentuk semburannya terlihat relatif teratur. Material lava memiliki temperatur tinggi dan dapat membakar atau merusak benda yang berada di jalurnya.


Aktivitas erupsi juga dapat disertai abu vulkanik, gas vulkanik, lontaran material pijar, aliran lava, serta bahaya lain yang bergantung pada karakter dan perkembangan erupsi.


Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mendekati kawah aktif hanya untuk melihat atau merekam aktivitas gunung api. Radius aman dan rekomendasi yang ditetapkan oleh otoritas harus menjadi acuan utama.


Status Gunung Anak Krakatau Level III atau Siaga


Pada saat aktivitas tersebut berlangsung, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.


Sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat. Perkembangan aktivitas serta perubahan morfologi gunung juga terus dipantau oleh petugas.


Badan Geologi juga menyampaikan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi saat itu, kondisi tersebut dinilai belum berada pada skala yang berpotensi mengalami keruntuhan hingga memicu tsunami.


Imbauan BNPB kepada Masyarakat


BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan gunung api untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil foto dan video.


Imbauan tersebut penting karena kawasan sekitar kawah aktif masih memiliki potensi lontaran material vulkanik. Warga yang berada di wilayah terdampak juga diharapkan mengikuti arahan BPBD dan pemerintah daerah.


Apabila terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat disarankan menggunakan masker atau pelindung pernapasan, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta melindungi mata dari paparan abu.


Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui MAGMA Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi.


Episode Erupsi Menerus Berakhir pada 6 September


Berdasarkan pembaruan Kementerian ESDM pada 6 September 2026, episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Dengan demikian, episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.


Setelah episode erupsi menerus berakhir, masih tercatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada 6 September 2026 pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.


Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas gunung api masih memerlukan pemantauan karena kondisi dapat berubah berdasarkan perkembangan terbaru.


Mengapa Aktivitas Gunung Api Terus Dipantau?


Pemantauan gunung api dilakukan untuk mengetahui perubahan aktivitas dan memberikan dasar bagi penentuan langkah keselamatan. Sejumlah parameter dapat diamati, termasuk kegempaan, aktivitas visual, emisi gas, deformasi tubuh gunung, serta karakter letusan.


Data dari berbagai instrumen kemudian dianalisis oleh petugas untuk melihat perkembangan aktivitas. Hasil analisis tersebut dapat menjadi dasar dalam menetapkan tingkat aktivitas maupun rekomendasi bagi masyarakat.


Masyarakat sebaiknya tidak menentukan sendiri tingkat bahaya erupsi hanya berdasarkan video, foto, suara, atau informasi yang beredar di media sosial. Informasi dari lembaga resmi tetap menjadi rujukan utama.


Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda


Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan Selat Sunda dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.


Gunung api ini memiliki sejarah aktivitas yang panjang. Pada 22 Desember 2018, aktivitas Anak Krakatau menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh dan peristiwa tersebut berkaitan dengan tsunami yang melanda sejumlah wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.


Setelah kejadian tersebut, aktivitas vulkanik dan perkembangan tubuh Gunung Anak Krakatau terus mendapatkan perhatian dari lembaga pemantauan gunung api.


Kesimpulan


Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh dan dentuman serta semburan merah menyala yang diinterpretasikan menyerupai fenomena lava fountain.


Setelah episode erupsi menerus berakhir, tercatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada 6 September 2026 pukul 03.53 WIB. Meski demikian, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.


Masyarakat diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas, tidak mendekati kawah untuk melihat atau merekam erupsi, serta mengikuti rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang.


Pemantauan aktivitas gunung api terus dilakukan oleh PVMBG dan Badan Geologi. Masyarakat di sekitar Selat Sunda diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait.


Detail Berita

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026 dan pembaruan pemantauan pada 6 September 2026. Kondisi gunung api dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan terbaru. Masyarakat disarankan mengikuti arahan dan informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah setempat.
×
Berita Terbaru Update